Selamat pagi Sobat, kali ini aku ingin berbagi sedikit
pengalaman di bulan ini.
November adalah salah satu bulan harapanku dimana pada bulan
ini hubunganku dengan seseorang yang jauh di sana sudah mulai membaik. Banyak
orang bilang LDR (Long Distance
Relationship) itu susah tapi menyenangkan bila pada akhirnya bisa
menjalaninya. Awalnya aku belum paham apa maksud dari kata – kata itu. Sampai
pada titik dimana orang yang aku sayangi biasanya berada di dekatku dan selalu
bisa menatap mata indahnya yang memukau itu. Kini semua harus berganti dengan
LDR itu, karena dia harus menempuh pendidikan yang lebih baik.
Saat ini dia berada di Pondok Pesantren Subulussalam di
daerah Limpasu, Hulu Sungai Selatan. Sedangkan aku sendiri sekarang berada di
Mantewe, Tanah Bumbu. Bila diperhatikan dari posisi tempat tinggal kami masing
– masing, memiliki hubungan jarak dekat sudah tidak memungkinkan. Karena kami
tidak lagi berada dalam satu kabupaten, kami sudah berbeda kabupaten. Jadi LDR
lah yang memungkinkan kami untuk selalu terhubung satu sama lain.
Sejak tanggal 29 september 2015, dia telah pergi ke tempat
barunya yang pada saat itu aku sendiri tidak tahu ketika dia datang ke tempatku
dengan maksud untuk berpamitan. Karena ketika sampai di tempatku, dia tidak ada
mengucapkan kata pamitan dan hanya bilang ingin melihat tempatku untuk
mengenang saat – saat bersamaku. Aku pun tidak memiliki pemikiran bahwa pada
hari itu juga dia akan pergi ke suatu tempat yang jauh di sana.
Sampai pada saat yang cukup lama, aku tidak mendapat kabar
tentang dia. Dan pada tanggal 16 Oktober aku menerima pesan singkat dari dia
yang ternyata dia baru memberi tahu kepadaku kalau dia sekarang sudah di
pesantren sana. Ketika aku bertanya sejak kapan dia berada di sana, dia pun
menjawabnya sejak terakhir kami bertemu. Itu berarti ketika dia ke tempatku
saat ingin mengucapkan kata pamit namun tidak bisa dia lakukan.
Sejak saat itu, hubunganku dengan dia mulai membaik dan
saling berkomunikasi lagi. Walaupun dengan waktu yang terbatas dan tertentu
saja, tepatnya sejak hari kamis sore sampai hari sabtu siang. Tapi setidaknya
hubungan kami bisa di jalani secara LDR. Aku pun yakin dan bisa bilang kalau
orang yang bilang LDR itu susah hanyalah orang yang tidak mau mencoba.
Ternyata aku pun salah dengan pemikiran itu, karena aku
belum mengalami fase – fase LDR seperti yang telah dialami oleh mereka yang
mengatakan LDR itu susah. Sampai pada tanggal 21 Oktober tepatnya, fase pertama
pun muncul. Aku mulai mengabaikan pesan singkat dari dia, tapi aku masih mau
menghubungi dia lewat telepon dan berbicara langsung akan kesibukanku pada saat
dia mengirim pesan singkat padaku yang tidak aku hiraukan itu.
24 Oktober ini pun dia 2 kali menelepon aku, tetapi pada
saat itu keadaanku tidak memungkinkan. Aku sedang berada di jalan berkendara
menuju ke tempat perkuliahan. Sesampainya di tempat perkuliahan, aku pun
langsung melihat hp dan mengirim pesan singkat kepada dia. Karena aku sudah
telat masuk perkuliahan, jadi tidak bisa berbicara langsung dengan dia. Siang ini
merupakan hari terakhir dia memegang hp di pesantren sana, sehingga ketika sore
ini setelah aku keluar dari perkuliahan dan menguhubungi dia pun sudah tidak
memungkinkan lagi.
7 November ini pagi hari sudah disambut oleh pesan singkat
dia yang dikirim kepadaku. Aku pun masih mau membalas pesan singkat itu, hanya
saja aku merasakan ada yang janggal dalam hatiku. Karena aku merasa dia begitu
berbeda dari waktu – waktu sebelumnya. Siang ini aku masuk perkuliahan,
sehingga aku memberi tahukan kepada dia agar tidak mengganggu selama aku
kuliah. Dia pun memintaku untuk memberi tahukan kalau aku sudah selesai kuliah
kepada dia nanti.
Selama aku mengikuti perkuliahan, dalam otakku terus
berpikir dengan kejanggalan yang terjadi sejak pagi tadi. Aku pun bertanya –
tanya akan ada hal apa yang terjadi ketika selesai perkuliahan itu. Sampai pada
saat itu datang, aku pun memberi tahukan kepada dia kalau aku sudah selesai
mengikuti perkuliahan.
Setelah dia mengetahui kalau aku sudah santai, dia pun
banyak mengirim pesan kepadaku dan berbicara banyak hal. Sampai pada saat aku
membalas pesan dia dengan kata yang sedikit lebih mesra untuk di dengar hanya
menggunakan kata ‘sayang’. Ternyata semuanya berubah, aku pun sadar akan
kejanggalan sebelumnya. Dia langsung membalas pesanku itu dengan permintaan
yang tidak biasanya, dia memintaku untuk tidak memanggilnya dengan kata – kata
itu. Karena akan membuat dia dimarahi oleh pacarnya. Mengetahui akan hal itu,
aku pun langsung kembali membalas pesan itu dengan permintaan untuk tidak
menghubungi aku lagi.
Sejak saat itu lah dia tidak menghubungiku lagi sampai
sekarang. Pada akhirnya aku pun sadar dengan apa yang dimaksud dengan LDR itu
susah. Setelah semua yang telah aku lalui itu membuat aku sadar tidak mudah
memang membangun hubungan dengan jarak yang sangat jauh. Perlu adanya
kepercayaan di antara kedua belah pihak dan tidak saling memdustakan.
Jadi, sekian dulu sobat untuk apa yang terjadi pada bulan
November dengan pengalaman yang aku lalui. Semoga bisa menjadi pelajaran bagiku
dan bagi yang telah membaca artikel ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan baik dan bijak.
Terima kasih.