Kamis, 30 Juni 2016

Suka Duka Bulan Puasaku

Selamat malam Sobat, kali ini aku ingin berbagi sedikit pengalaman di bulan ini.

Kita semua tahu kalau di bulan ini begitu banyak sekali berkah yang mengalir di setiap sudut negeri ini. Mengingat bulan ini adalah bulan penuh berkah, kalian semua sudah tentu tahukan, ada apa di bulan ini ? Yap, benar sekali bulan ini adalah bulan Ramadhan jadi selamat menyantap makanan setelah siang hari tadi sudah bergelut dengan hawa nafsu. Hahaha . . . ga nyambung banget deh. Ok, mari kita bahas pengalaman di bulan juni ini.

Tanpa terasa kita sudah berpuasa selama 25 hari sejak tanggal 6 Juni awal umat islam di seluruh Indonesia menjalankan ibadah puasa. Hayo siapa yang sudah bolong puasanya, ngaku ? Aku sendiri sudah 2 hari bolong hehe . . . coz dapat insiden sih jadi bolong deh puasaku. Tapi ga apa, ayo kawan kita masih punya waktu 5 hari lagi sebelum bulan yang penuh berkah ini pindah ke tahun depan (semoga masih diberi kesempatan untuk bertemu lagi). Mari kita tuntaskan semuanya sampai akhirnya kita akan menikmati hari raya bersama.

Kalau aku roll back lagi di bulan ini mungkin akan sedikit mengecewakan sih bagiku, tapi juga semagai semangat di bulan depan deh. Awal bulan ini tepatnya tanggal 2 adalah kegiatan KSM yang berlangsung di MAN 1 TANAH BUMBU. Aku berangkat bersama dengan anak buah yang akan mengikuti kegiatan ini dan Pimpinan juga yang mengantarkan. Dalam kegiatan yang dimulai sekitar jam 10 waktu setempat dengan durasi 2 jam, anak buah bergelut dengan berbagai soal yang diujikan. Selesai sekitar jam 12 siang kemudian makan siang sembari menunggu hasil ujian yang telah dilakukan tadi. Memasuki jam 14 siang, panitia mengumumkan hasil ujian itu selama 30 menit. Dan inilah yang aku bilang sedikit mengecewakan tadi, dari hasil ujian ternyata anak buahku tidak ada yang masuk daftar anak juara dari ketiga bidang yang diikuti mereka masing – masing. Sungguh kenyataan yang pahit bukan kawan? Tapi kalau aku lihat kembali tentu alasan yang kuat pun mengikuti tanpa terkecuali. Karena aku hanya mempersiapkan mereka selama 3 hari sebelum ujian ini dilakukan. Tentu bukan hal yang ringan jika kalian bayangkan apalagi lakukan bukan kawan?

Tapi di sinilah letak kenikmatan yang aku rasakan, karena tanpa aku sadari telah belajar untuk berjuang sekaligus menerima dengan hasil yang belum memuaskan itu. Motivasi tinggi pun bermunculan dalam diriku ini, maka aku pun berniat untuk mensukseskan anak buakku pada tahun depan lagi. Bagaimanapun persiapan adalah yang paling utama dalam hal ini kawan, untuk itu pada tahun depan aku harus mempersiapkan anak buah lebih ekstra lagi agar dapat meraih kebanggaan bagi mereka karena bisa juara dalam perlombaan yang diikutinya.

3 hari setelah kegiatan KSM itu berlalu, kini memasuki hari pembagian raport yang selanjutnya libur selama 3 hari dari hari itu. Maka hari pertama puasa berada di rumah karena libur awal bulan ramadhan ini. Setelah libur awal ramadhan berlalu,, kini masuk kembali untuk kegiatan selama bulan puasa. Kegiatan yang  biasa dilakukan adalah tadarus Al Qur’an yang berlangsung selama 12 hari. Kegiatan pun berjalan lancar hingga sampai pada hari terakhir berada di pesantren yaitu tanggal 19 yang pada siang hari setelah sholat dzuhur semuanya pada pulang ke rumah masing – masing. Ada yang berjalan kaki termasuk MS dan RH serta sebagian menunggu dijemput oleh orang tuanya.

Di sinilah salah satu kenangan yang tak ingin aku lupakan. Ada yang tahu kenapa, kawan? Karena pada hari ini aku telah menulis surat kepada MW yang hampir saja tidak dapat aku berikan padanya. Mengingat mamanya yang berada di depan pintu masuk sehingga sulit bagiku untuk langsung berhadapan dengan MW. Untung saja dia tidak langsung masuk ke mobil dan pulang. Karena pada saat itu, tempat yang bisa aku jangkau adalah jendela, jadi surat itu aku letakkan di jendela dengan harapan ketika nanti MW keluar dari kamar langsung bisa aku panggil dan memberikannya. Tetapi ternyata siasat itu gagal, karena aku tidak bisa memanggil dia ketika keluar dari kamarnya. Surat pun masih berada di jendela itu, sedangkan dia sedang menuju mobil untuk meletakkan barang bawaan.

Inilah kesempatan yang tidak datang dua kali, ketika dia telah meletakkan barang bawaannya hal yang aku pikir dia akan langsung masuk ke mobil ternyata tidak. Dia berbalik ke arah belakang kamar untuk mengambil sesuatu yang masih tertinggal. Karena dia melewati jendela tempat aku meletakkan surat tadi maka tidak aku sia siakan kesempatan emas ini. Aku pun langsung menunjuk ke arah surat itu berada ketika dia telah dekat dengan jendela. Respon dia pun cepat karena dia langsung mengambil dan melipatnya kemudian langsung menyimpanya dalam sakunya. Akhirnya surat pun telah padanya sehingga hati pun lega karena telah tersampaikan apa yang menjadikan keinginanku itu.

Setelah hari terakhir itu aku bertemu dengan MW, sampai sekarang aku belum dapat kabar apapun dari dia dan juga belum bertemu lagi. Rasa kangen dalam hatiku pun mulai bermunculan dan berharap segera bertemu lagi untuk melepaskan rindu yang mulai membunuhku ini. Selama menunggu kepastian tentang dia yang tak juga ada kabarnya, aku pun melakukan perjalanan pendek dengan survei ke rumah MS. Tepatnya pada hari senin kemarin tanggal 27 sambil menikmati mencekamnya malam hari dalam perjalanan yang aku tempuh setelah selesai makan sahur.

Berangkat bermodalkan sepeda onthel dan sebuah senter di tangan, aku pun berangkat ke Mantawakan Mulia dengan agenda mengunjungi MS bila ada. Jalan yang aku lewati untuk berangkat adalah desa Buluh Rejo atau sering disebut blok C2. Sesampainya di kilometer 37 aku dihadapkan dengan jalanan yang berlumpur dan kondisi sekitar gelap karena hutan belantara dengan rumah warga sangat terbatas. Dengan penuh keyakinan tetap melanjutkan dengan rintangan yang dihadapi ini. 4 kilometer jalanan berlupur terlewati sampai dekat turunan menuju rumah MS ternyata aku sudah dihadang dengan sebuah tronton yang mengalami kecelakaan karena roda belakangnya masuk dalam gubangan yang sangat dalam sehingga badan mobil menghalangi hampir seluruh jalan dengan tubuh mobil yang miring ke arah kiri bisa saja lebih dari 300. Hal ini memaksa aku harus turun dari sepeda onthel dan mencari jalan di sisi kanan tronton yang masih terbuka walau sangat sempit. Aku pun harus berjalan di atas lumpur demi bisa melewati jalan yang ditutup oleh badan mobil ini.

Inilah yang aku lakukan mengingat tempat yang aku tuju sudah dekat sehingga aku pun melanjutkan dengan berjalan kaki. Sungguh sebuah fakta yang mengejutkan dengan tidak adanya lampu yang menyala disetiap rumah yang ada di sekitar rumah MS. Sebuah pertanyaan yang terbesit dalam pikirku apakah listrik belum sampai ke desa ini ? Aku hanya bisa mendapati sebuah lampu menyala di rumah MS, itu pun seperti pada bagian belakang saja mungkin di dapur. Selain itu, aku tidak menemukan lampu lain yang menyala baik di mushola yang baru maupun yang lama bahkan di rumah – rumah warga lainnya. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat bertolak belakang sekali dengan keadaan di desaku.

Setelah aku mengetahui semua kondisi di rumah atau bahkan desa MS ini, aku pun beranjak untuk kembali ke rumah. Lagi – lagi aku harus melewati jalanan sempit yang dibuat oleh tronton yang terperosok dalam gubangan yang berada di tengah jalan itu. Setelah aku melewati tronton itu belum cukup jauh, tiba – tiba aku mendengar suara hewan yang sepertinya marah di sekitar pohon sawit di sebelah kanan jalan. Aku pun bertanya – tanya hewan apakah itu dan aku tidak berani untuk menyinari dengan senter yang aku bawa. Aku pun hanya bertanya – tanya dalam hati apakah itu kucing, kera atau bahkan harimau? Aku tidak tahu jawabannya sehingga aku memilih untuk melanjutkan perjalanan pulang.

Setelah sampai di kilometer 37, aku pun memilih lewat jalan blok B2 tepatnya desa Dukuh Rejo. Aku keluar dari jalanan berlumpur yang tentu masih meninggalkan sisa dari perjalanan itu sendiri yaitu berlumpur. Sesampainya di jembatan pertama memasuki kebun sawit, aku pun berhenti untuk membersihkan sisa perjalanan berlumpur itu. Aku turun ke bawah jembatan mengingat aliran air yang tidak begitu deras, sehingga aku bisa membersihkan diri di bawah jembatan itu besarta sepeda onthel ku tentunya. Selesai membersihkan diri, aku pun melanjutkan perjalanan pulang dan sampai di rumah sekitar jam 8 pagi dengan sepeda serta tubuh yang sudah terhindar dari lumpur jalanan kilometer 33.


Jadi begitulah sobat suka duka di bulam Juni ini yang sekaligus pembelajaran yang sangat berharga karena tidak semua orang bisa dan mau untuk melakukan apa yang aku lakukan hanya demi sebuah kenikmatan batin yang didambakan. Kita tunggu keseruan, kesedihan, kebahagiaan dan lainnya dari kisah – kisahku di bulan mendatang. Semoga bermanfaat dan selamat menantikan santap sahur . . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan baik dan bijak.
Terima kasih.